Another installment from the Di Apartemen universe. Go read and comment.
Mesin Espresso
Saya mesin espresso.
Bahkan dari nama saya saja siapapun bisa tahu bahwa saya bukan perabot untuk membuat produk lokal. Nama saya saja sudah cukup untuk membuat lidah beberapa orang terpelintir. Apalagi cara kerja saya. Tapi tak apa. Justru di situlah kebanggaan saya: hanya orang-orang terpilih yang bisa memahami saya.
Sedihnya, saya sendiri baru sekali digunakan, yaitu pada saat pengetesan saya di pabrik sebelum dipak ke dalam kotak dan dijual di pasar swalayan.
Kamu! Ya, kamu! Kamu membeli saya tanpa pernah menggunakan saya. Sudah tujuh tahun saya menunggumu memfungsikan saya sebagaimana mestinya, wahai majikan. Tapi lihat kenyataannya. Tujuh tahun! Tujuh tahun saya hanya berada di dalam kotak bening dan jadi pajangan. Terus terang, saya tidak terima. Saya punya harga diri. Saya mesin espresso; bukan vas bunga atau mosaik kerang atau montase foto!
Saya sendiri bingung kenapa kamu membeli saya. Kamu tidak suka kopi, apalagi espresso. Dulu kamu pernah berkata bahwa kamu membeli saya sebagai sebuah hadiah. Hadiah yang tidak pernah kamu berikan. Selama tujuh tahun, pula! Entah kenapa. Masalahnya, bagaimana saya bisa menanyakan hal tersebut kepadamu kalau kamu saja jarang menyentuh saya?
Lalu suatu hari dia—orang terpentingmu—mengajukan ide: dia menggunakan saya atau saya diberikan saja kepada yang berhak. Mesin espresso bukanlah mesin espresso jika tidak digunakan untuk membuat espresso—sama seperti gaduh bukanlah gaduh jika tidak ada yang mendengarnya.
Wajahmu langsung mengeras. Bahkan dari balik kotak bening saya bisa melihatnya. Lalu saya menunggu kata-kata sengit terlontar darimu. Saya menunggu kamu membalas dengan sindiran tajam. Saya menunggu pintu ditutup dengan bantingan kasar. Tapi tidak. Yang ada, selama tiga hari berikutnya, kamu mogok bicara. Sama sekali tak mau menyapanya, tak mau membalas salam selamat paginya, tak mau melihat binar di matanya meredup setiap kali kamu melengos pergi.
Ah, kamu ini benar-benar majikan aneh yang keras kepala.
Hari keempat perang dingin. Apartemen ini kedatangan tamu. Tamu agung, bahkan.
Dia yang membukakan pintu. Keningnya langsung berkerut begitu melihat sang tamu. Laki-laki berkacamata dan berwajah cerah. Beda sekali dengan wajah tertekuk kalian berdua beberapa hari terakhir ini. Sang tamu memberinya sebuah senyum. Senyum yang sama seperti senyum petugas bagian perakitan di pabrik dulu ketika si petugas sukses merakitku. Senyum yang sama seperti senyummu ketika kamu melihat saya di rak pasar swalayan dan memutuskan membawa saya pulang.
Halo, sapa sang tamu. Masih ingat saya, kan? Lama tidak ketemu, ya. Oh iya, saya mau ambil mesin espresso. Sang tamu berhenti sebentar. Yang mestinya saya lakukan tujuh tahun lalu.
Oh!
Dia mempersilakan sang tamu masuk, tapi sang tamu menolak. Saya cuma sebentar kok, katanya. Saya datang, saya ambil, saya pergi.
Sang tamu di ambang pintu. Dia mengambil kotak saya. Akhirnya! Jadi tamu inilah orang yang semestinya menjadi majikan saya tujuh tahun lalu. Pasti orang ini jugalah yang membuatmu mencetuskan perang dingin sepihak. Ah, tamu yang satu ini pasti begitu istimewa bagimu ya, majikan.
Sang tamu menimang kotak saya. Berat juga, ya? katanya. Mungkin kalau saya ambil dari dulu, nggak akan seberat ini.
Dia mengangguk saja.
Oke. Saya harus kembali ke rumah sakit. Pasien nggak bisa ditinggal lama-lama nih. Terima kasih ya. Sang tamu mengulurkan tangan kepadanya. Saya harap kamu nggak keberatan saya datang. Habis dibilangin suruh ambil sendiri sih. Ya sudah, hari ini saja. Ngomong-ngomong, firasat saya mengatakan dia pulang sebentar lagi. Mungkin kami akan berpapasan di lobi.
Dia memaksakan sebuah senyum ketika menjabat tangan sang tamu. Bahkan dia sakit kepala pukul tiga pagi pun kamu pasti tahu tanpa diberitahu. Diucapkan dengan pahit kopi, pahit sekali. Bahkan saya pun bisa merasakannya.
Sang tamu tersenyum lembut. Seperti sudah tahu bahwa dia akan mengatakan hal tersebut. Dia memilih untuk bersama kamu.
Lalu kamu muncul. Baru pulang rupanya. Jadilah pertemuan kalian bertiga terjadi di sini, di lorong, bukan di lobi. Kamu sempat terdiam sebentar, langkahmu terhenti di ujung lorong. Entah kamu terkejut atau tak mau ke apartemenmu sekarang. Tapi sang tamu—juga dia—sudah melihatmu.
Saya sudah ambil nih, kata sang tamu sambil mengangkat kotak saya sedikit. Sang tamu ganti menjabat tanganmu. Ini benar-benar hadiah yang berkesan. Lalu tersenyum lagi. Senyum lembut yang sama seperti yang diberikan kepadanya. Terima kasih.
Saya yang harusnya bilang begitu, katamu, pelan.
Sang tamu mengeratkan genggaman tangannya. Setiap pertemuan adalah anugerah. Makanya saya berterima kasih kepada kalian berdua.
Sang tamu—majikan baru saya—berlalu dengan kotak saya dipegangnya baik-baik. Saya tahu dia akan jadi majikan yang baik. Dan karena katanya setiap pertemuan adalah anugerah, saya bersyukur pernah singgah di apartemenmu. Saya harap perang dingin konyolmu berakhir. Saya harap kalian punya mesin pembuat minuman—apapun itu—yang bisa kalian gunakan bersama, tidak hanya jadi pajangan. Saya harap kalian akan saling menyapa selamat pagi dengan senyum paling lembut mulai besok.
Dan harapan saya terkabul.
Hal terakhir yang saya lihat sebelum kamu menutup pintu adalah kalian berdua dalam satu pelukan.
.-.-.-.
Mesin Espresso
Saya mesin espresso.
Bahkan dari nama saya saja siapapun bisa tahu bahwa saya bukan perabot untuk membuat produk lokal. Nama saya saja sudah cukup untuk membuat lidah beberapa orang terpelintir. Apalagi cara kerja saya. Tapi tak apa. Justru di situlah kebanggaan saya: hanya orang-orang terpilih yang bisa memahami saya.
Sedihnya, saya sendiri baru sekali digunakan, yaitu pada saat pengetesan saya di pabrik sebelum dipak ke dalam kotak dan dijual di pasar swalayan.
Kamu! Ya, kamu! Kamu membeli saya tanpa pernah menggunakan saya. Sudah tujuh tahun saya menunggumu memfungsikan saya sebagaimana mestinya, wahai majikan. Tapi lihat kenyataannya. Tujuh tahun! Tujuh tahun saya hanya berada di dalam kotak bening dan jadi pajangan. Terus terang, saya tidak terima. Saya punya harga diri. Saya mesin espresso; bukan vas bunga atau mosaik kerang atau montase foto!
Saya sendiri bingung kenapa kamu membeli saya. Kamu tidak suka kopi, apalagi espresso. Dulu kamu pernah berkata bahwa kamu membeli saya sebagai sebuah hadiah. Hadiah yang tidak pernah kamu berikan. Selama tujuh tahun, pula! Entah kenapa. Masalahnya, bagaimana saya bisa menanyakan hal tersebut kepadamu kalau kamu saja jarang menyentuh saya?
Lalu suatu hari dia—orang terpentingmu—mengajukan ide: dia menggunakan saya atau saya diberikan saja kepada yang berhak. Mesin espresso bukanlah mesin espresso jika tidak digunakan untuk membuat espresso—sama seperti gaduh bukanlah gaduh jika tidak ada yang mendengarnya.
Wajahmu langsung mengeras. Bahkan dari balik kotak bening saya bisa melihatnya. Lalu saya menunggu kata-kata sengit terlontar darimu. Saya menunggu kamu membalas dengan sindiran tajam. Saya menunggu pintu ditutup dengan bantingan kasar. Tapi tidak. Yang ada, selama tiga hari berikutnya, kamu mogok bicara. Sama sekali tak mau menyapanya, tak mau membalas salam selamat paginya, tak mau melihat binar di matanya meredup setiap kali kamu melengos pergi.
Ah, kamu ini benar-benar majikan aneh yang keras kepala.
Hari keempat perang dingin. Apartemen ini kedatangan tamu. Tamu agung, bahkan.
Dia yang membukakan pintu. Keningnya langsung berkerut begitu melihat sang tamu. Laki-laki berkacamata dan berwajah cerah. Beda sekali dengan wajah tertekuk kalian berdua beberapa hari terakhir ini. Sang tamu memberinya sebuah senyum. Senyum yang sama seperti senyum petugas bagian perakitan di pabrik dulu ketika si petugas sukses merakitku. Senyum yang sama seperti senyummu ketika kamu melihat saya di rak pasar swalayan dan memutuskan membawa saya pulang.
Halo, sapa sang tamu. Masih ingat saya, kan? Lama tidak ketemu, ya. Oh iya, saya mau ambil mesin espresso. Sang tamu berhenti sebentar. Yang mestinya saya lakukan tujuh tahun lalu.
Oh!
Dia mempersilakan sang tamu masuk, tapi sang tamu menolak. Saya cuma sebentar kok, katanya. Saya datang, saya ambil, saya pergi.
Sang tamu di ambang pintu. Dia mengambil kotak saya. Akhirnya! Jadi tamu inilah orang yang semestinya menjadi majikan saya tujuh tahun lalu. Pasti orang ini jugalah yang membuatmu mencetuskan perang dingin sepihak. Ah, tamu yang satu ini pasti begitu istimewa bagimu ya, majikan.
Sang tamu menimang kotak saya. Berat juga, ya? katanya. Mungkin kalau saya ambil dari dulu, nggak akan seberat ini.
Dia mengangguk saja.
Oke. Saya harus kembali ke rumah sakit. Pasien nggak bisa ditinggal lama-lama nih. Terima kasih ya. Sang tamu mengulurkan tangan kepadanya. Saya harap kamu nggak keberatan saya datang. Habis dibilangin suruh ambil sendiri sih. Ya sudah, hari ini saja. Ngomong-ngomong, firasat saya mengatakan dia pulang sebentar lagi. Mungkin kami akan berpapasan di lobi.
Dia memaksakan sebuah senyum ketika menjabat tangan sang tamu. Bahkan dia sakit kepala pukul tiga pagi pun kamu pasti tahu tanpa diberitahu. Diucapkan dengan pahit kopi, pahit sekali. Bahkan saya pun bisa merasakannya.
Sang tamu tersenyum lembut. Seperti sudah tahu bahwa dia akan mengatakan hal tersebut. Dia memilih untuk bersama kamu.
Lalu kamu muncul. Baru pulang rupanya. Jadilah pertemuan kalian bertiga terjadi di sini, di lorong, bukan di lobi. Kamu sempat terdiam sebentar, langkahmu terhenti di ujung lorong. Entah kamu terkejut atau tak mau ke apartemenmu sekarang. Tapi sang tamu—juga dia—sudah melihatmu.
Saya sudah ambil nih, kata sang tamu sambil mengangkat kotak saya sedikit. Sang tamu ganti menjabat tanganmu. Ini benar-benar hadiah yang berkesan. Lalu tersenyum lagi. Senyum lembut yang sama seperti yang diberikan kepadanya. Terima kasih.
Saya yang harusnya bilang begitu, katamu, pelan.
Sang tamu mengeratkan genggaman tangannya. Setiap pertemuan adalah anugerah. Makanya saya berterima kasih kepada kalian berdua.
Sang tamu—majikan baru saya—berlalu dengan kotak saya dipegangnya baik-baik. Saya tahu dia akan jadi majikan yang baik. Dan karena katanya setiap pertemuan adalah anugerah, saya bersyukur pernah singgah di apartemenmu. Saya harap perang dingin konyolmu berakhir. Saya harap kalian punya mesin pembuat minuman—apapun itu—yang bisa kalian gunakan bersama, tidak hanya jadi pajangan. Saya harap kalian akan saling menyapa selamat pagi dengan senyum paling lembut mulai besok.
Dan harapan saya terkabul.
Hal terakhir yang saya lihat sebelum kamu menutup pintu adalah kalian berdua dalam satu pelukan.
.-.-.-.
- Mood:
grateful

Comments